Doa Agar Anak Cepat Jalan Dan Bicara
Suatu hari, di sebuah mesjid. Setelah melaksanakan sholat magrib bersama. Anak-anak sudah siap-siap di mesjid untuk mengaji. Akan tetapi, Pak Ustad Herman yang biasanya menjadi guru mengaji, belum juga datang. Doni : Ferdi, ke mana Pak Ustad Herman, kenapa belum datang? Kevin : Tidak tahu, mungkin Pak Ustad sebentar lagi datang. Hasan : Tidak biasanya, Pak Ustad lama seperti ini. Anto : Iya benar. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu. Tak lama kemudian, pak ustad pun datang. tapi pak herman terlihat pucat dan kaki nya kesulitan berjalan sampai harus membawa tongkat sambil dibantu oleh anaknya, menggendong tangan pak herman lalu mengantarnya duduk . Ustadz : Assalamualaikum wr. wb. Murid : Waalaikumussalam wr. Wb. Ferdi : Pak Herman, Bapak kenapa? Ustadz : Tidak apa-apa. Bapak hanya sedang tidak enak badan. Beni : Pak herman sakit ya? Kenapa dipaksakan ke sini Pak? Ustadz : Tidak apa-apa. Bapak kan harus mengajar kalian mengaji. Kalau tidak mengajar, siapa yang akan mengajar kalian mengaji ? Anto : Tidak apa-apa Pak. Kami di sini bisa minta diajarkan mengaji sama kakak-kakak senior. Ustadz : Iya, tapi Bapak tak apa-apa. selama Bapak masih bisa berbicara dan membantu kalian. Tidak peduli, bapak sehat atau sedang sakit, bapak harus terus mengajar kalian mengaji. Ini kan termasuk kewajiaban bapak juga. Anto : tidak apa-apa pak. Kami disini bisa minta diajarkan mengaji sama kakak-kakak senior. Ustadz : iya, tapi bapak tak apa-apa. selama bapak masih bisa berbicara dan membantu kalian. Tidak peduli, bapak sehat atau sedang sakit, bapak harus terus mengajar kalian mengaji. Ini kan termasuk kewajiaban bapak juga. Kevin : oh begitu pak ustad. Ustadz : (sambil berdiri) oke, sekarang kita mulai mengajinya. Sebelum mengaji, mari kita membaca alfatihah dulu ya. Auu..dzubillah.................. Tiba-tiba pak herman pingsan. Anak-anak kaget melihat pak herman tak sadarkan diri. Lalu orang-orang di sekitar mesjid membawa pak ustad ke pinggir dan merebahkan badannya. Lalu memberinya minyak kayu putih. Tapi tidak juga bangun. Selama menunggu beliau sadarkan diri, Pak Malik bercerita. Malik : Pak Ustadz ini punya riwayat sakit sudah lama. Penyakitnya kambuh lagi. Walaupun sedang sakit, beliau tetep memaksakan diri pergi ke mesjid untuk mengajar kalian ngaji. Jadi kalian mesti banyak bersyukur karena telah digurui oleh Pak Ustad Herman ini. Pengorbanannya dari dulu demi membuat anak-anak kampong ini mahir mengaji tidaklah sia-sia. Karena itu, mari kita doakan pak herman supaya cepat sembuh ya anak-anak. aamin!!!! Alfaatihah! Kata Tidak Baku: Verba: Nomina:
1. Suatu hari, di sebuah mesjid. Setelah melaksanakan sholat magrib bersama. Anak-anak sudah siap-siap di mesjid untuk mengaji. Akan tetapi, Pak Ustad Herman yang biasanya menjadi guru mengaji, belum juga datang. Doni : Ferdi, ke mana Pak Ustad Herman, kenapa belum datang? Kevin : Tidak tahu, mungkin Pak Ustad sebentar lagi datang. Hasan : Tidak biasanya, Pak Ustad lama seperti ini. Anto : Iya benar. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu. Tak lama kemudian, pak ustad pun datang. tapi pak herman terlihat pucat dan kaki nya kesulitan berjalan sampai harus membawa tongkat sambil dibantu oleh anaknya, menggendong tangan pak herman lalu mengantarnya duduk . Ustadz : Assalamualaikum wr. wb. Murid : Waalaikumussalam wr. Wb. Ferdi : Pak Herman, Bapak kenapa? Ustadz : Tidak apa-apa. Bapak hanya sedang tidak enak badan. Beni : Pak herman sakit ya? Kenapa dipaksakan ke sini Pak? Ustadz : Tidak apa-apa. Bapak kan harus mengajar kalian mengaji. Kalau tidak mengajar, siapa yang akan mengajar kalian mengaji ? Anto : Tidak apa-apa Pak. Kami di sini bisa minta diajarkan mengaji sama kakak-kakak senior. Ustadz : Iya, tapi Bapak tak apa-apa. selama Bapak masih bisa berbicara dan membantu kalian. Tidak peduli, bapak sehat atau sedang sakit, bapak harus terus mengajar kalian mengaji. Ini kan termasuk kewajiaban bapak juga. Anto : tidak apa-apa pak. Kami disini bisa minta diajarkan mengaji sama kakak-kakak senior. Ustadz : iya, tapi bapak tak apa-apa. selama bapak masih bisa berbicara dan membantu kalian. Tidak peduli, bapak sehat atau sedang sakit, bapak harus terus mengajar kalian mengaji. Ini kan termasuk kewajiaban bapak juga. Kevin : oh begitu pak ustad. Ustadz : (sambil berdiri) oke, sekarang kita mulai mengajinya. Sebelum mengaji, mari kita membaca alfatihah dulu ya. Auu..dzubillah.................. Tiba-tiba pak herman pingsan. Anak-anak kaget melihat pak herman tak sadarkan diri. Lalu orang-orang di sekitar mesjid membawa pak ustad ke pinggir dan merebahkan badannya. Lalu memberinya minyak kayu putih. Tapi tidak juga bangun. Selama menunggu beliau sadarkan diri, Pak Malik bercerita. Malik : Pak Ustadz ini punya riwayat sakit sudah lama. Penyakitnya kambuh lagi. Walaupun sedang sakit, beliau tetep memaksakan diri pergi ke mesjid untuk mengajar kalian ngaji. Jadi kalian mesti banyak bersyukur karena telah digurui oleh Pak Ustad Herman ini. Pengorbanannya dari dulu demi membuat anak-anak kampong ini mahir mengaji tidaklah sia-sia. Karena itu, mari kita doakan pak herman supaya cepat sembuh ya anak-anak. aamin!!!! Alfaatihah! Kata Tidak Baku: Verba: Nomina:
Jawaban:
Kata tidak baku: tetep, kampong
Verba : penyakitnya kambuh lagi
Nomina : membawa tongkat
maaf y klo salah
2. Dialog lanjutan Paing Menyambung dialog Cerpen Paing Tokoh : Paing Istri Paing Tante Pragawati Iyem Supir Setelah cukup lama tinggal dengan majikannya, Paing ingin mandiri saja Paing : saya rasa kita haris hidup mandiri. Sudah cukup lama kita tinggal dengan majikan dibengkel mebel Istri :saya juga sudah merasa tidak enak, Kang. Terlalu lama kita ikut dirrumah majikanmu. Apa tidak sebaiknya kita hidup mandiri ? Paing : kamu tidak keberatan jika kita hidup mandiri ? Istri : Tidak, Kang. Justru saya senang Paing : Baiklah. Nanti saya akan berbicara dengan majikan Keesokan harinya Istri : Bagaimana Kang ? Sudah dibicarakan dengan majikan ? Paing : Iya, Sudah Istri : Bagaiman tanggapan beliau ? Paing : Agak keberatan, tapi saya sudah meyakinkan beliau Istri : Syukurlah Paing : setelah kita keluar dari rumah majikan, usaha apa yang harus kita lirik ? Istri : Yak Kang, itu akan menjadikan kehidupan kita lebih baik Paing : Bagaiman jikak ita gagal nanti ? Istri : Kita harus tetap berusaha Kang, kita percayakan kepada gusti . Jangan mudah putus asa Paing : Iya saya akan berusaha Paing mulai mencari dan berjalan keliling untuk mencari tempat pekerjaan dan kemudian mendapatkan tempat berjualan. Paing : Aku sudah mendapatkan tempat untuk berjualan Istri : Alhamdulillah Kang, Aku akan membantu membuat Nasi uduk besok pagi Paing : Iya, sebaiknya saya berangkat jualan sebelum matahari terbit Istri : aku doakan agar jualan kita cepat laku mas Paing : terima kasih ya sayang, aku juga akan terus berusaha untuk keluarga kita. Beberapa hari kemudian Istri : mas sepertinya aku sudah mau melahirkan Paing : iya , sabarya. Aku akan pulang. Paing pun terburu-buru untuk pulang melihat istrinya. Paing : aku minta bantuan mu untuk menjaga tempat jualan ku sementara waktu Orang X : iya baiklah aku akan menjaganya Paing : terima kasih banyak Orang X : sama-sama. Hari berikutnya paing mulai berangkat lagi ketempat jualannya. Sesampainya paing terkejut dan tak dapat berbuat apa-apa kecuali sabar dan iklas. Paing mulai melangkah pulang kerumah. Istri : mas kenapa kamu pulang begitu cepat. Apa jualan kita sudah laku semua ? “tanya istrinya dengan semangat. Paing : Tempat ku kemalingan dan sekarang aku tidak punya pekerjaan Istri : sabarlah Kang, aku akan membantumu mencari pekerjaan karena aku sudah cukup kuat pasca melahirkan Istrinya mulai berjualan mencari lowongan pekerjaan dan menuju ke rumah tante tempat nya bekerja dulu Istri : Permisi Tante : Iya, Ada perlu apa ? Istri : saya dan suami saya butuh pekerjaan tante Tante : Saya punya teman yang kebutulan butuh tukang kebun Istri : Terimakasih, aku akan memberitahukan KangPaing Tante Tante : Besok aku akan mengajak Paing Kerumah teman saya Isrti lari begiti cepat untuk memberitahu paing. Istri : kang aku sudah dapat pekerjaan untukmu di rumah teman tente tempat ku dulu bekerja. Paing : terima kasih ya, Istri : iya kang. Kamu disana bekerja menjadi tukang kebun. Paing : iya tidak apa-apa, setidaknya aku dapat pekerjaan. Hari berikutnya Paing mulai bekerja sebagai tukang kebun Pragawati : Siapa namamu? Paing : Saya Paing Pragawati : Coba perlihatkan KTP mu Paing : saya tidak punya KTP bu, saya haya lulusan SMP Pragawati : kamu harus bekerja dengan baik, jangan sampai membuat tanaman mahalku mati. Seperti kelakuan Tuakng kebung yang lalu. Paing : iya bu, saya akan hati-hati merawat tanamannya. Berselang beberapa kemudian Inyem menghampiri Paing Inyem : paing kamu dipanggil Nyonya Paing : sebentar, aku harus mengerjakan pekerjaan ini Inyem : Nyonya minta cepat Paing : iya iya Paing menyela nafas lalu pergi Pramugari : Paing kamu ganti pakaian dulu lalu ke Bank mengambil uang bersama supir Paing : Baik Nyonya Sesungguhnya Supir tidak senang dengan Pramugari yang mencurigainya dan lebih mempercayai Paing. Sekitar beberapa menit diperjalanan akhirnya Paing mendapatkaan gaji pertamanya dan segera memberikan kepada sang istri dan anak-anaknya yang ia tinggalkan beberapa bulan
Kelas: SMP
Pelajaran: Bhs Indonesia
Kategori: cerita dan dialog
Kata kunci: dialog lanjutan
Pembahasan:
Usai sampai dirumah, Paing bertemu keluarganya
Istri Paing: Gimana Kang pekerjaannya?
Paing: Yah, lumayan. Sepertinya majikan percaya sama aku. Tapi, aku merasa supirnya yang agak iri.
Istri: Kenapa memangnya, Kang?
Paing: Tidak tahu ya pastinya.
Istri: Ya, sabar saja, Kang, yang penting kita bekerja sungguh-sungguh tanpa berbuat macam-macam.
Paing: Iya, betul juga.
Keesokan harinya, Paing telah kembali bekerja. Namun, dia heran saat melihat sejumlah polisi di rumah majikannya.
Paing: Ada apa mas? Kok banyak polisi.
Supir: Nyonya baru saja kehilangan sejumlah perhiasannya.
Paing: Wah, kapan itu?
Supir: Tidak tahu, sepertinya sudah ada seminggu tetapi baru ketahuan kemarin.
Paing: oh, gitu, terus siapa pelakunya?
Supir: Tidak tahu kalau itu.
Setelah masuk kerumah, Paing pun menjadi sasaran pertanyaan polisi.
Polisi: Ibu, ini saudara Paing, bukan?
Pramugari: Ya, pak.
Polisi: OK, anda ikut bersama kami ke kantor polisi.
Paing: Lho, pak, saya tidak tahu apa-apa.
Pramugari: Iya, pak, dia orang yang saya percaya. Dia orang baik-baik.
Polisi: Tapi menurut prosedur, saudara Paing, juga harus diinvestigasi.
Majikannya tidak bisa berbuat apa-apa saat polisi bersikeras membawanya ke kantor polisi. Untungnya tak sampai dia dibawa, seorang polisi menemukan sebuah anting di pojok lantai ruangan kamar Inyem si pembantu. Investigasi pun difokuskan ke Inyem yang ternyata pernah melakukan hal serupa dimajikan sebelumnya dengan menggunakan KTP palsu. Majikan Paing pun kaget mendengar paparan polisi. Selanjutnya, Polisi pun segera melacak Inyem yang sedang tidak ada ditempat.
3. Harapan untuk Mas Galang Arini Izzataddini “Zita, ayo tidur sayaang. Sudah jam setengah sepuluh niih. Memangnya besok kamu tidak sekolah ? Ayo cepat tidur Zita” Mama menyuruhku tidur sambil berlalu ke kamarnya. “ Iya maa.” Ujarku yang sedang menonton sinetron kesukaanku. Aku matikan tivi dan naik tangga menuju kamarku. Aku langsung naik ke kasurku untuk tidur. Karena aku sudah mulai mengantuk. Tapii. Kok aku nggak bisa tidur ya ? Seperti ada yang kurang. Oh iya ! Aku lupa menulis diary. Kebiasaanku setiap sebelum tidur adalah menulis diary. Tapi kenapa sekarang aku lupa ya ? Aku langsung mengambil diaryku di lemari dan mulai menulisnya. Dear Diary, Hari ini, aku punya satu cerita yang mengaharukan tentang sepupuku sendiri.. Mas Galang namanya. Pada tahun 1995, lahir 5 orang anak dari lima pasang suami istri. Ibu-ibu yang melahirkan berasal dari satu keluarga besar yang sama. Kakek dan Nenek sangat bahagia. Mereka langsung memiliki 5 cucu sekaligus di tahun itu. Galang, Dimaz, Agung, Rania dan aku. Mereka lahir normal dan sehat. Itu terjadi lima belas tahun yang lalu.. Di tahun ajaran ini, kami berlima seharusnya akan menjalani UAS-BN. Empat anak diantara kami telah bersiap-siap untuk melakukannya. Tapi satu anak lagi? Ia hanya bisa di rumah melakukan kegiatan yang tak menentu… Ya, mas Galang namanya. Putra ketiga dari kakak ayahku yang tertua. Dia menderita autis. Mamaku masih suka bercerita bahwa pada tahun pertama, mas Galang terlihat sebagai anak yang paling sehat diantara kami. Tinggi besar, tampan, dan sangat aktif. Tapi makin lama, makin terlihat bahwa dia tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik. Saat ini, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena masih belum dapat berkomunikasi dengan baik. Bahkan belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menunjukkan kemandiriannya. Jadi selama ini bude dan Pakdeku sangat memproteksi dirinya. Memang kasihan mas Galang, orang tuanya bukan orang yang berpunya. Bahkan….rumahnya di pinggir sekaligus di atas sungai. Rumah yang sungguh membahayakan untuk kondisi mas Galang yang seperti ini. Aku ingin menangis jika aku berkunjung ke rumahnya. Wilayahnya tidak layak dan rumahnya bukan seperti rumah melainkan gudang kecil. Usaha-usaha orangtuanya sedikit membuahkan hasil. Ayahnya belum punya pekerjaan tetap. Hanya seorang perangkai dan penjual bunga yang tak selalu mendapat order untuk dikerjakan. Kakaknya masih kelas 11 sekarang. Mas Galang punya satu kakak lagi, yang sedang bekerja di Filipina. Dan ia satu-satunya tulang punggung di keluarga itu. Selain keadaan mas Galang yang mengkhawatirkan, ibunya lebih mengkhawatirkan. Bude Lina, jika kupanggil dirinya, terkena Thalasemia hingga saat ini. Uang mereka tak cukup untuk menyembuhkan Bude Lina dan melaksanakan terapi autis mas Galang sekaligus. Anaknya tampan dan selalu ingin tahu. Kini, ia sudah mulai dapat sedikit berbicara walaupun belum mampu berfikir jelas. Mas Galang sudah tumbuh lebih tinggi dari aku, Dimaz, Agung,dan Rania. Tapi walaupun begitu, keadaan non fisiknya jauh tertinggal dari kami. Tidak pernah ada yang menduga, karena Mas Galang terlahir normal dan sama seperti kami semua. Papaku bilang, dulu keluarga nenek tidak mampu. Sebagai kakak pertama, Bude Lina menjadi tulang punggung keluarga. Ia tak sekolah hingga S1. Langsung saja bekerja. Jadi, beliau sekolahkan adik-adiknya. Memang, seluruh keluarga besar kami saat ini telah turut membantu ekonomi keluarga bude, namun karena masing-masing memiliki tanggungan keluarga yang juga tidak sedikit, maka bantuan bagi mas Galang masihlah jauh dari kebutuhan. Menghidupi keluarga sehari-hari, membantu pengobatan mas Galang, dan bude Lina sekaligus. Harapanku, mas Galang dapat sembuh dan dapat bermain dan belajar bersama kami, atau paling tidak, dia mampu membantu dirinya sendiri, sehinga dapat menjadi manusia yang mandiri, dan kelak tidak bergantung pada orang lain. Aku ingin sekali mas Galang dapat menjalani terapi yang Intensif, agar kondisi itu dapat terwujud. Dan aku ingin bude Lina berkurang beban hidupnya, sebagaimana yang selalu beliau rasakan selama ini….. Ini adalah Harapanku. **** “Hoaam. Sudah pukul 22.30” ujarku sambil melongok ke jam weker yang diletakkan di samping tempat tidurku. “ Lama sekali ya aku menulis diary.” Kataku sambil menaruh kembali buku diaryku lalu naik ke kasur dan menarik selimut. “Hhh, semoga harapanku untuk mas Galang dapat terkabul Ya Allah” Aku pun memejamkan mataku setelah berdoa untuk mas Galang. Amiin. 8.buatlah kerangka teks ulasan yang memuat butir butir penting sesuai dengan struktur isi teks ulasan. 9.berdasarkan kerangka yang telah kamu buat, susunlah sebuah teks ulasan sederhana berdasarkan kutipan cerpen dengan memperhatikan struktur isi dan fitur bahasa teks ulasan.
Sepertinya ini adlah sebuah Cerpen (Cerita Pendek)
4. Harapan untuk Mas Galang Arini Izzataddini “Zita, ayo tidur sayaang. Sudah jam setengah sepuluh niih. Memangnya besok kamu tidak sekolah ? Ayo cepat tidur Zita” Mama menyuruhku tidur sambil berlalu ke kamarnya. “ Iya maa.” Ujarku yang sedang menonton sinetron kesukaanku. Aku matikan tivi dan naik tangga menuju kamarku. Aku langsung naik ke kasurku untuk tidur. Karena aku sudah mulai mengantuk. Tapii. Kok aku nggak bisa tidur ya ? Seperti ada yang kurang. Oh iya ! Aku lupa menulis diary. Kebiasaanku setiap sebelum tidur adalah menulis diary. Tapi kenapa sekarang aku lupa ya ? Aku langsung mengambil diaryku di lemari dan mulai menulisnya. Dear Diary, Hari ini, aku punya satu cerita yang mengaharukan tentang sepupuku sendiri.. Mas Galang namanya. Pada tahun 1995, lahir 5 orang anak dari lima pasang suami istri. Ibu-ibu yang melahirkan berasal dari satu keluarga besar yang sama. Kakek dan Nenek sangat bahagia. Mereka langsung memiliki 5 cucu sekaligus di tahun itu. Galang, Dimaz, Agung, Rania dan aku. Mereka lahir normal dan sehat. Itu terjadi lima belas tahun yang lalu.. Di tahun ajaran ini, kami berlima seharusnya akan menjalani UAS-BN. Empat anak diantara kami telah bersiap-siap untuk melakukannya. Tapi satu anak lagi? Ia hanya bisa di rumah melakukan kegiatan yang tak menentu… Ya, mas Galang namanya. Putra ketiga dari kakak ayahku yang tertua. Dia menderita autis. Mamaku masih suka bercerita bahwa pada tahun pertama, mas Galang terlihat sebagai anak yang paling sehat diantara kami. Tinggi besar, tampan, dan sangat aktif. Tapi makin lama, makin terlihat bahwa dia tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik. Saat ini, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena masih belum dapat berkomunikasi dengan baik. Bahkan belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menunjukkan kemandiriannya. Jadi selama ini bude dan Pakdeku sangat memproteksi dirinya. Memang kasihan mas Galang, orang tuanya bukan orang yang berpunya. Bahkan….rumahnya di pinggir sekaligus di atas sungai. Rumah yang sungguh membahayakan untuk kondisi mas Galang yang seperti ini. Aku ingin menangis jika aku berkunjung ke rumahnya. Wilayahnya tidak layak dan rumahnya bukan seperti rumah melainkan gudang kecil. Usaha-usaha orangtuanya sedikit membuahkan hasil. Ayahnya belum punya pekerjaan tetap. Hanya seorang perangkai dan penjual bunga yang tak selalu mendapat order untuk dikerjakan. Kakaknya masih kelas 11 sekarang. Mas Galang punya satu kakak lagi, yang sedang bekerja di Filipina. Dan ia satu-satunya tulang punggung di keluarga itu. Selain keadaan mas Galang yang mengkhawatirkan, ibunya lebih mengkhawatirkan. Bude Lina, jika kupanggil dirinya, terkena Thalasemia hingga saat ini. Uang mereka tak cukup untuk menyembuhkan Bude Lina dan melaksanakan terapi autis mas Galang sekaligus. Anaknya tampan dan selalu ingin tahu. Kini, ia sudah mulai dapat sedikit berbicara walaupun belum mampu berfikir jelas. Mas Galang sudah tumbuh lebih tinggi dari aku, Dimaz, Agung,dan Rania. Tapi walaupun begitu, keadaan non fisiknya jauh tertinggal dari kami. Tidak pernah ada yang menduga, karena Mas Galang terlahir normal dan sama seperti kami semua. Papaku bilang, dulu keluarga nenek tidak mampu. Sebagai kakak pertama, Bude Lina menjadi tulang punggung keluarga. Ia tak sekolah hingga S1. Langsung saja bekerja. Jadi, beliau sekolahkan adik-adiknya. Memang, seluruh keluarga besar kami saat ini telah turut membantu ekonomi keluarga bude, namun karena masing-masing memiliki tanggungan keluarga yang juga tidak sedikit, maka bantuan bagi mas Galang masihlah jauh dari kebutuhan. Menghidupi keluarga sehari-hari, membantu pengobatan mas Galang, dan bude Lina sekaligus. Harapanku, mas Galang dapat sembuh dan dapat bermain dan belajar bersama kami, atau paling tidak, dia mampu membantu dirinya sendiri, sehinga dapat menjadi manusia yang mandiri, dan kelak tidak bergantung pada orang lain. Aku ingin sekali mas Galang dapat menjalani terapi yang Intensif, agar kondisi itu dapat terwujud. Dan aku ingin bude Lina berkurang beban hidupnya, sebagaimana yang selalu beliau rasakan selama ini….. Ini adalah Harapanku. **** “Hoaam. Sudah pukul 22.30” ujarku sambil melongok ke jam weker yang diletakkan di samping tempat tidurku. “ Lama sekali ya aku menulis diary.” Kataku sambil menaruh kembali buku diaryku lalu naik ke kasur dan menarik selimut. “Hhh, semoga harapanku untuk mas Galang dapat terkabul Ya Allah” Aku pun memejamkan mataku setelah berdoa untuk mas Galang. Amiin. 8.buatlah kerangka teks ulasan yang memuat butir butir penting sesuai dengan struktur isi teks ulasan. 9.berdasarkan kerangka yang telah kamu buat, susunlah sebuah teks ulasan sederhana berdasarkan kutipan cerpen dengan memperhatikan struktur isi dan fitur bahasa teks ulasan.
itu masukan dari saya, terserah mau diterima atau tidak tergantung anda :)Uraikan saja jawaban
Posting Komentar untuk "Doa Agar Anak Cepat Jalan Dan Bicara"